Lazio dan Cremonese memulai pertandingan dengan kehati-hatian yang terlihat jelas di lapangan. Meskipun kedua tim berusaha untuk mengambil inisiatif, peluang-peluang yang tercipta sangat minim di awal laga ini.
Tim tamu, Cremonese, lebih dulu mencoba melakukan serangan melalui Federico Bonazzoli, namun kedua percobaannya pada menit ke-5 dan ke-9 gagal membuahkan hasil. Bola yang dilepaskannya melambung tinggi di atas mistar gawang Lazio, menandakan bahwa mereka harus lebih presisi dalam mengeksekusi peluang yang ada.
Sementara itu, Lazio baru menunjukkan respons berarti pada menit ke-31 melalui usaha Mattéo Guendouzi. Tembakan dari luar kotak penalti yang ia lepaskan setelah situasi bola mati sayangnya melenceng jauh, membawa kedua tim memasuki babak pertama tanpa ada gol yang tercipta.
Strategi Awal yang Hati-hati dari Kedua Tim
Kedua tim menerapkan strategi bermain yang lebih defensif di babak pertama. Hal ini terlihat dari banyaknya pelanggaran kecil yang terjadi, mengurangi ritme permainan yang seharusnya menghibur penonton.
Pemain-pemain kunci dari masing-masing tim berusaha merangsek ke pertahanan lawan, namun selalu gagal menjangkau area berbahaya. Kiper dari kedua tim juga tidak banyak mendapatkan tekanan, sehingga permainan berlangsung dalam tempo yang cukup lambat.
Dengan tidak ada gol yang tercipta, para pelatih pasti mendapatkan pekerjaan rumah untuk memperbaiki performa tim mereka. Strategi menyerang yang lebih tajam dan terorganisir menjadi kunci untuk meningkatkan peluang mencetak gol di babak kedua.
Babak Kedua yang Lebih Agresif
Memasuki babak kedua, Lazio menunjukkan niat untuk tampil lebih agresif. Upaya pertama datang lewat sundulan Valentín Castellanos pada menit ke-50, namun kiper Cremonese, Emil Audero, berhasil menggagalkan usaha tersebut dengan refleksnya yang sigap.
Perlawanan dari Cremonese pun muncul tak lama setelah itu, di mana Jamie Vardy mencoba untuk menebus keadaan. Sayangnya, sundulannya yang dekat dengan gawang masih melambung tinggi, menghilangkan peluang untuk memimpin pertandingan.
Beberapa peluang beruntun muncul untuk Lazio, seperti usaha Tijjani Noslin pada menit ke-66 dan 70. Sayangnya, baik tembakan kaki kanan maupun sundulannya tidak mampu menjangkau sasaran yang tepat.
Pertarungan Sengit di Tengah Laga
Jika ada yang menarik di babak kedua, itu adalah ketegangan yang ditampilkan para pemain di lapangan. Kedua tim saling mengancam, dan sering kali permainan terhenti karena pelanggaran.
Menjelang menit ke-75, Cremonese kembali mengancam melalui tembakan Bonazzoli, yang sayangnya ditepis oleh kiper Lazio, Ivan Provedel. Tekanan dan intensitas permainan mulai meningkat, dengan kedua tim berusaha untuk merebut kendali laga.
Drama semakin meningkat ketika kedua kiper dihadapkan pada tembakan-tembakan yang cukup menyulitkan mereka. Pertarungan di lapangan berlangsung seru, dengan setiap kesalahan dapat berujung pada gol.
Momen Krusial yang Mengubah Arah Laga
Memasuki masa injury time, situasi di lapangan memanas ketika Federico Ceccherini dari Cremonese mendapat kartu merah. Hal ini membuat tim tamu harus berjuang dengan 10 pemain di sisa waktu pertandingan
Dalam situasi ini, Lazio seharusnya bisa memanfaatkan keunggulan jumlah pemain, namun meskipun beberapa peluang tercipta, mereka tetap gagal menjebol gawang lawan. Kiper Emil Audero semakin menjadi sorotan dengan penyelamatan-penyelamatan gemilangnya.
Hingga peluit panjang dibunyikan, skor tetap bertahan 0-0. Pertandingan berakhir tanpa gol, namun intensitas serta usaha yang ditunjukkan oleh kedua tim patut diapresiasi.
